Alasan Demi Kedisplinan Guru Melakukan Kekerasan Terhadap Murid

Alasan Demi Kedisplinan Guru Melakukan Kekerasan Terhadap Murid

restorepima.com – Menurut Ketua Federasi Guru Berdiri sendiri Indonesia, Tetty Sulastri, sampai kini guru masih tetap sering berkelit menegakkan kedisiplinan waktu lakukan kekerasan pada peserta didik.

Tetty, yang berstatus fasilitator kampanye sekolah ramah anak, menyebutkan sejumlah besar guru juga belumlah tinggalkan rutinitas berbicara kasar didalam kelas.

” Sekitar 90% pengajar menampik kampanye sekolah ramah anak dengan berkata, dalam praktek belajar-mengajar penuh kelembutan, kedisiplinan akan tidak ada, ” tutur Tetty lewat telephone, Senin (23/07).

Tidak hanya data itu, Kementerian Pemberdayaan Wanita serta Perlindungan Anak juga mencatat, 84% pelajar atau delapan dari 10 peserta didik di Indonesia sempat jadi korban perundungan (bullying).

Akan tetapi Ketua KPAI, Susanto, menyebutkan pada umumnya jumlahnya kekerasan di lingkungan pendidikan selalu alami penurunan dari tahun ke tahun. Ia menyampaikan pemerintah sudah mengusahakan bermacam langkah untuk mendesak kekerasan itu.

Susanto mengklaim trend penurunan itu dipicu program sekolah ramah anak serta Ketentuan Menteri Pendidikan serta Kebudayaan 82/2015 mengenai mencegah serta penanggulangan kekerasan di sekolah.

” Mesti disadari kekerasan verbal masih tetap tinggi, baik oleh guru atau pelajar. Tetapi pengurangan jumlahnya kekerasan itu prestasi serta mesti diapresiasi, ” tutur Susanto di Jakarta.

Masalah kekerasan yang paling akhir mencuat menerpa siswi SMAN 1 Mojokerjo, Mas Hanum Aprilia. Akhir minggu lantas ia dilaporkan cedera kronis serta lumpuh disebabkan dipaksa 90 kali squat jump oleh pelajar lainnya di sekolahnya.

Dinas pendidikan ditempat mengatakan pihak sekolah lupa atas peristiwa itu. Sangsi administratif tengah mereka kaji untuk dijatuhkan pada kepala sekolah itu.

Selain itu, satu pagi hari Juni lantas di Yogyakarta, mahasiswa Kampus Gadjah Mada, Dwi Ramadhani Herlangga, meninggal dibacok sekumpulan remaja. Kepolisian menciduk beberapa tersangka aktor yang nyatanya masih tetap berstatus pelajar.

Menurut dosen Fakultas Pengetahuan Pendidikan di Kampus Negeri Yogyakarta, Ariefa Efianingrum, walau berlangsung diluar jam sekolah, tenaga pendidik tidak bisa terlepas tangan atas kekerasan yang dikerjakan pelajar.

Di lain sisi, Ariefa juga memandang orangtua juga bertindak besar atas beberapa kekerasan yang menyertakan pelajar.

” Semuanya pihak mesti ikut serta, termasuk juga sekolah serta dinas pendidikan, karena status pelajar menempel 24 jam. ”

” Walaupun kegiatan pelajar diluar jangkauan, contohnya pagi hari, bukan bermakna mereka dapat terlepas tangan. Juga penting keluarga menjadi tempat pertama anak bersosialisasi. Tidak dapat satu pihak saja, ” kata Ariefa.

Ariefa awal mulanya sempat mempelajari kejadian kekerasan antarpelajar serta oleh tenaga pendidik di beberapa sekolah di Yogyakarta.

KPAI menilainya kebiasaan kekerasan di sekolah bisa alami penurunan bila kualitas pendidikan tenaga pengajar digenjot. Menurut mereka, kampanye sekolah menjadi tempat yang steril dari kekerasan tidak efisien bila dikerjakan parsial.

” Pada proses pembibitan guru, mata kuliah perlindungan anak harus menjadi diharuskan di fakultas keguruan. Tujuanya waktu jadi guru, mereka telah mempunyai pandangan itu, ” kata Susanto.

Bagaimanapun di Jakarta, beberapa guru tergerak untuk tidak lakukan kekerasan serta berinisiatif menahan perundungan dan tawuran.

Anshori, seseorang guru SMK negeri di Jakarta, berkata tunjangan kapasitasnya (TKD) akan dipotong bila tidak berhasil jadikan sekolah ramah anak.

” Jika siswa kami ikut serta tawuran, TKD kami akan alami penurunan. Imbasnya, kami mesti terjun secara langsung ke lapangan, memberi penyuluhan supaya siswa tidak yang berantem, ” katanya.

Hal sama disampaikan Tetty Sulastri yang mengajar di SMAN 24 Jakarta. Regulasi pemerintah yang pas, menurut dia, bisa beresiko positif pada kondisi belajar-mengajar.

” Di Jakarta, jika siswanya tawuran, satu sekolah tunjangannya dipotong. Guru berebut untuk turun tangan menangani itu, ” kata Tetty